Monday, October 8, 2012

Perahu kertas 2


Kamar seorang teman di Palembang utara 10.43

Pada menit itu saya mulai mengetik tulisan ini, setelah selama kurang lebih dua jam hanya bermain-main dengan scrolling di timeline twitter, “ngubek-ubek” kompas dot com dan blog walking tanpa tahu mau menulis apa. Bigail ponakan temen saya sesekali memasuki kamar bertanya tanpa berhenti, seperti efek domino, saya sampai kehabisan jawaban, sampai ke saya berganti celana pendek ditanyakan mengapa dan darimana, demikianlah . Pertanyaan darimana itu yang kemudian membuat saya mendapatkan ide untuk menulis ini. Perahu kertas 2. Akhirnya saya nonton juga bagian terakhir dari film yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari yang skenarionya juga ditulis oleh beliau. Bagian kedua ini mungkin lebih bisa mewakili novelnya dibanding yang bagian pertama.

Dan bagian ini juga cukup sukses membuat saya berlinangan airmata, cinta tidak pernah mudah. Berputar-putar , menorehkan luka pada beberapa hati, untuk akhirnya masing-masing menemukan pelabuhan terakhirnya. Ini sebuah film, sebuah cerita yang diadaptasi dari sebuah novel, dan hidup seringkali bertolak belakang dengan novel atau cerita, hidup lebih sering ber-ending  sedih itulah kenapa film atau novel seringkali dibuat ber-ending bahagia [saya pernah membahas ini dengan seseorang pada suatu malam, entah dia masih mengingatnya atau tidak].

Tapi satu hal yang membuat saya percaya akan apa yang ingin disampaikan oleh novel/film ini adalah karena penulisnya Dewi Lestari, salah satu penulis favorit saya yang briliant. Apa yang ingin disampaikannya bahwa hidup ini terkadang harus berputar-putar dulu untuk sampai ke tujuannya. Sekali lagi apa yang terjadi selama masa berputar-putar itulah yang membuat hidup itu berwarna. Bisakah kita membayangkan jika hidup itu sebuah jalan yang hanya lurus saja, mulus saja, putih saja bukankah akan sangat membosankan. Cerita melalui jalan berbatu yang coklat, berkelok yang merah saga, menanjak yang berwarna biru, tergelincir yang berwarna ungu, terjatuh yang berwarna kelabu, terkapar yang berwarna hitam muda, bangun menjadi jingga, berjalan lagi, berlari menemukan pelangi, berputar tergelincir lagi menjadi abu-abu, bangun lagi demikian seterusnya, bukankah itu lebih indah. Mungkin itu memang maksudNya, agar kita bisa melihat warna-warni kehidupan ini. Ahh...akhirnya thanks God for created seorang Dewi Lestari :))


*tulisan ini ditulis sambil mendengarkan curhat teman saya, maaf kalau typo sana sini dan agak kacau
#Oktober 8

Sunday, October 7, 2012

heaven on earth...



Diatas tumpukan bantal dan titi kolo mongsonya Sudjiwo tedjo, jemari menari diatas kotak-kotak aksara mengikuti kemana sebatang ingatan berjingkat dari satu tempat ke tempat yang lain, ada dia dan kelinci anggoranya dalam setiap spasi.  Pada suatu bab, ingatan memasuki sebuah kota dengan sebuah gapura selamat datang di sebuah jalan dengan kanan kirinya daerah persawahan yang menghijau. Hawa magis selalu terasa membelai keping hati ketika memasukinya, terasa hangat memeluk jiwa, hawa yang sama terasa ketika turun dari kereta di stasiun kereta tua yang terus berbenah ataupun ketika turun dari pesawat terbang di sebuah bandara kecil nan sederhana, semuanya sama, hawa magis dan senyum yang pecah di sapaan ramah penduduknya.

Sebatang ingatan berjalan terus menuju ke timur merasakan kehangatan pagi, memasuki kota, kota sejuta romansa, dengan setiap sudutnya yang memiliki cerita tentang perjuangan, perjuangan pejuang merebut kembali kota, perjuangan warga membangun kota, perjuangan seorang ayah untuk keluarganya, perjuangan seorang ibu untuk anak dan suaminya, perjuangan seorang anak untuk bakti pada orang tua, perjuangan seorang kakak untuk adiknya, perjuangan seorang karyawan, perjuangan seorang pemulung, perjuangan seorang anak jalanan, perjuangan seorang ustadz, perjuangan seorang pendeta, perjuangan seorang pastor, p erjuangan seorang bhiku, perjuangan seorang spiritualis, perjuangan seorang agnotis, perjuangan mereka yang berkasih-sayang, perjuangan musisi jalanan, perjuangan pedagang kaki lima, perjuangan lik-lik angkringan,perjuangan jamu gendongan, perjuangan bakul tenongan, perjuangan sais delman, perjuangan mereka yang percaya bahwa hidup harus diperjuangkan bukan untuk ditangisi,  ini kota yang bercerita tentang perjuangan penuh peluh yang mengalir di sela derai tawa, perjuangan yang tidak berujung karena indahnya ada di sepanjang perjalanan.

Sebatang ingatan terus berjalan dari gunung ke pantai, dari candi ke museum, dari gang-gang sempit ke jalan-jalan utama, dari sayidan sampai malioboro, dari bakpia sampai gudeg, dari nasi kucing sampai bakmi jawa, dari warung ke cafe, dari sanggar kecil ke pusat budaya, dari musisi jalanan ke orkestra mahasiswa, dari  home industri ke export company, dari panggung di kampung-kampung ke pagelaran seni tingkat dunia, dari satu senyum ke senyum yang lain, dari sugeng enjang ke sugeng dalu, dari kulonuwun ke matur nuwun, dari sabang sampai merauke di sebuah tempat belajar, dari band indie sampai sheila on 7, ini tentang surga kecil di bumi yang tuhan titipkan di bumi indonesia, sebuah kota yang adalah negeri di awan dimana kedamaian menjadi istananya.

Sebatang ingatan berhenti di rindu yang jatuh berderai diatas rindu yang membiru, aliran anak sungai mengaburkan ingatan akan sebuah jalan yang semakin hari semakin padat, menuju sebuah kediaman dimana cinta dan kasih tidak pernah berhenti meski jarak merentang. Kota ini merayakan hari jadi nya yang ke 256, sugeng tanggap warso, lagu pee wee gaskin menjadi doa untukmu

suara pesta kan bergema (hilang semua duka)
riang canda membuat lupa (ajalmu kan tiba)
bertambah satu usiamu kawan semakin dekat akhir hidupmu
selamat ulang tahun jangan jadi tua dan menyebalkan
selamat ulang tahun kawan dan kejarlah yang terbaik selama engkau hidup

berkumpullah dengan teman-temanmu (jabat erat tangan yang biasa menikam)
tiup lilin akan membuat ingat (yang bersinar kelak akan pudar)

selamat ulang tahun jangan jadi tua dan menyebalkan
selamat ulang tahun kawan dan kejarlah yang terbaik selama engkau hidup
selamat ulang tahun jangan jadi tua dan membosankan
selamat ulang tahun kawan dan jadilah yang terbaik selama engkau hidup

jabat erat tangan yang biasa menikam, jabat erat tangan yang biasa menikam
dan angkat gelasmu kita bersulang, dan angkat gelasmu kita bersulang
dan angkat gelasmu kita bersulang, dan angkat gelasmu kita bersulang

selamat ulang tahun jangan jadi tua dan menyebalkan
selamat ulang tahun kawan dan kejarlah yang terbaik selama engkau hidup
selamat ulang tahun jangan jadi tua dan membosankan
selamat ulang tahun kawan dan jadilah yang terbaik selama engkau hidup

(dan kejarlah yang terbaik, dan jadilah yang terbaik, selama engkau hidup)

Sekali lagi.... selamat Jogja tercinta, jangan menjadi tua dan menyebalkan.



#Oktober 7

Saturday, October 6, 2012

pagi tak sama lagi.....



Bukankah ini masih malam yang sama tu[h]an...?
malam yang menghitam tanpa pesan
malam yang menggendong bulan dan bintang-bintang
malam yang merayap memberi masa kepada embun untuk menggenang

Bukankah ini masih malam yang sama tu[h]an...?
malam sehabis senja menyanyikan kidung cintanya
malam seusai hujan memuntahkan pilunya
malam sebelum kesunyian pecah berderai di katup sepasang mata

Bukankah ini masih malam yang sama tu[h]an....?
malam tanpa kunang-kunang yang kehilangan bintang
malam tanpa simpul-simpul keindahan yang pendar di senyuman
malam tanpa daun-daun yang berguguran yang adalah keabadian

ini memang masih malam yang sama tu[h]an....
namun  pagi tak lagi sama ...



#Oktober 6

Friday, October 5, 2012

prajurit tua.....



Aku adalah prajurit tua dengan pangkat terakhir sersan mayor.
aku telah dimakan usia, usia yang tidak pernah kenyang , ia melahap waktu dalam bilangan tahun-tahun kehidupan manusia. keriput kulitku menjadi kegemaran sekar cucu terakhirku, ia sering memegang tanganku kemudian menarik-narik kulit di kedua tanganku, “ aku ingin punya kulit seperti kakek” begitu selalu katanya.  Ia belum mengerti bahwa  kulit yang licin ini adalah tanda bahwa sebentar lagi ia akan paling tidak setahun sekali mengunjungiku dan menabur bunga di taman makam pahlawan, itupun jika aku beruntung, jika tidak aku hanya akan berakhir di tempat pemakaman umum.  “nanti kalau sekar sudah mempunyai sekar yang lain baru kulit sekar akan seperti kakek” demikian jawabku kepadanya yang terus bertanya bagaimana agar kulitnya bisa seperti kulitku.

Aku adalah prajurit tua dengan pangkat terakhir sersan mayor.
aku adalah seorang dari sekian prajurit yang beruntung yang hidupnya tidak berakhir di Panti Wredha seperti kebanyakan teman-temanku. Anak bungsuku laki-laki, Ganang namanya,  kuambil dari nama anak laki-laki Jenderal yang jadi teladanku, adalah seorang anak yang memanusiakan orang tuanya yang telah berubah menjadi lebih kekanak-kanakan daripada anak-anaknya ini.  Ganang menciptakan sebuah kediaman dimana aku memiliki peran sebagai kakek di sebuah rumah. Sebuah peran pahlawan dalam keluarga, sehingga anak-anaknya menjadi cucu-cucu termanis yang membuat masa tuaku lebih berwarna. Meski aku tahu tidak mudah merawat orang tua seperti aku yang seperti merasa asing dengan lingkungannya, segala kebanggaan yang melekat di bekas seragamku atas perjuanganku dulu mempertahankan Irian Barat sama sekali sudah tidak dihargai oleh bangsa ini bahkan diingat pun tidak.

Aku adalah prajurit tua dengan pangkat terakhir sersan mayor ,
Aku adalah seorang prajurit yang rasanya ingin kembali ke waktu itu ketika hidupku begitu berharga, ketika aku demikian bangga dengan statusku sebagai prajurit, aku demikian bangga dengan seragamku, aku demikian bangga sebagai anggota sapta marga dengan sumpah prajuritnya, aku menjalankan itu untuk republik ku, republik yang dirintis dengan perjuangan, perjuangan yang mahal dangan taruhan nyawa, yang dipertahankan berdirinya dengan darah. Aku ingin kembali ke masa itu, ketika aku merasa berarti karena bersama korps telah membawa propinsi kaya itu, ke pangkuan ibu pertiwi, propinsi yang kini hanya dieksploitasi tanpa dihidupi secara layak sebagai daerah penyumbang devisa bagi negara. Aku menangis melihat kesenjangan itu, entah apa sudah terjadi dengan republik ini.

Aku adalah prajurit tua dengan pangkat terakhir sersan mayor,
aku tidak berharap dihormati sedemikian rupa, aku tidak butuh penghargaan atau tanda jasa apapun, aku hanya ingin generasi ini menghargai apa yang telah diperjuangkan pendahulunya dengan tetesan darah, keringat dan airmata. Aku ingin generasi ini memiliki semangat juang yang sama dengan kami dengan  belajar dan bekerja sesuai kemampuannya. Aku ingin republik ini menghargai arti perjuangan kami dengan memelihara dengan baik segala yang diam didalam lingkup negara ini, manusia dan sumber daya alamnya. Aku ingin mereka yang mengaku berdarah Indonesia berhenti mengutuki kegelapan yang membebat negara ini dan mulai menyalakan lilin, berbuat sesuatu untuk tanah air yang telah memberikan mereka tempat tinggal, tanah air yang telah memberikan mereka air untuk diminum, tanah air yang telah memberikan mereka makanan, tanah air yang telah menghidupi mereka. Berjanjilah kalian....!!!!





*bagi saya Anda adalah seorang jenderal yang sesungguhnya sersan...
**Selamat HUT TNI Jenderal.............!!!


#Oktober 5

Thursday, October 4, 2012

tuhan dan hal-hal yang tidak saya mengerti



Beberapa waktu yang lalu sebuah account resmi twitter milik sebuah perusahaan kendaraan roda dua membuat lelucon tentang autis di timeline mereka dan mendapat protes dari seorang ibu yang  anaknya menderita autis. Menurut ibu tersebut sangatlah tidak bijaksana menjadikan kekurangan orang/cacat dsb sebagai lelucon atau bahan olok-olok. Sebuah tweet yang kemudian menuai komentar pro dan kontra yang akhirnya diakhiri dengan permintaan maaf dari perusahaan tersebut. peristiwa tersebut mengingatkan saya pada suatu peristiwa di suatu sore, disebuah dermaga kecil di tepian kali musi. Sore itu saya menikmati sore dan mengurai rasa sesak didada, saya mengambil tempat favorit saya, yang untungnya masih kosong. Saya duduk dalam diam…merasakan tiupan angin yang lumayan besar yang menimbulkan gelombang-gelombang kecil pada air sungai…perahu-perahu boat hilir mudik mengantar penyeberang…beberapa kapal tongkang juga terlihat sesekali…pandangan saya jauh ke arah jembatan Ampera yang padat merayap…dan…heyyy…ada pelangi disana….saya senang sekali melihatnya…semoga ini pertanda baik…pertanda saya akan melihat pelangi pada hidup saya dan orang-orang yang saya sayangi…

Saat itu saya mengambil beberapa gambar….kemudian saya mengeluarkan si kotak ajaib dan mulai mengetik coretan-coretan kecil…sejenak kemudian ada seorang anak mungkin kalau seperti anak kebanyakan kira-kira umur 10 tahun…saya tidak begitu memperhatikan…ia datang bersama mama dan kakak perempuannya…mereka asyik berfoto-foto dan saya tenggelam dengan kotak ajaib saya…
sejenak buntu dalam pikiran saya…dan saya pun menoleh kearah anak tersebut…dan saya melihat ciri khas anak-anak down syndrom…berwajah mongoloid….sejenak saya termangu dan bertanya-tanya…saya memperhatikan mereka, mama kakak dan adik…kakaknya sempurna cantik…mama nya juga cantik…memakai hijab. satu hal yang sangat membuat saya respect kepada sang kakak dan mama adalah mereka sama sekali tidak ada rasa canggung atau malu berfoto dan bercanda dengan adik dan anak mereka…adalah butuh kebesaran jiwa untuk menerima kenyataan bahwa ada salah satu anggota keluarga mereka yang “kelebihannya adalah kekurangannya” …

setelah menyaksikan peristiwa itupun saya trenyuh…
saya menyimpan pertanyaan [yang sama yang pernah saya baca di sebuah status/tweet] untuk Sang Pencipta….mengapa? mengapa ada ciptaanNya yang terlahir dengan “kelebihan” tersebut?
dan pertanyaan itu saya simpan…saya akan cari tahu jawabnya…
saya sempat menegur adik itu…
“dik..dik…lihat itu ada pelangi” kata saya padanya sambil menunjuk kearah Jembatan
ia mendekati saya dan berkata “apa…”
“pelangi…” mama nya ikut menjelaskan
tapi dia sepertinya tidak tertarik akan keindahannya…dan kembali asyik dengan kamera handphone kakaknya…
Hari mulai gelap, mereka beringsut pulang dan saya memutuskan untuk pulang…

Malamnya saya bercerita pada teman saya kalau bertemu dengan seorang anak yang “kelebihannya adalah kekurangannya”
saya bertanya kepadanya kenapa ya kok Tuhan menciptakan “kelebihan-kelebihan” tersebut….
teman saya langsung antusias menanggapi dan mulai bercerita…
oiyaaa…saya pernah membaca kejadian di luar negeri saya lupa dimana…
ada seorang bapak mengajak anaknya yang menderita down syndrome berjalan-jalan di taman. dalam perjalanan mereka melewati lapangan baseball dimana sedang ada pertandinga….
bocah tersebut berkata pada ayahnya…
“mau…mau…main itu…”
ayahnya berusaha membujuknya dan mengalihkan perhatiannya untuk tidak ikut bermain dalam pertandingan tersebut, tetapi bocah itu tetap bersikeras ingin ikut.
akhirnya sang ayah menceritakan keinginan anak itu pada pemimpin pertandingan, pemimpin pertandingan pun mengundang masing-masing team yang sedang bermain untuk membicarakan bisa tidak anak itu ikut bermain. akhirnya mereka memutuskan untuk memperbolehkan anak itu bermain dan masuk team A yang sedang mendapat giliran memukul. saat itu team B sudah unggul atas team A dan hanya tinggal menunggu hasil game terakhir ini.
singkat cerita bocah itu menjadi pemukul bola…dan sepanjang permainan…para pemain dari kedua team berbesar hati “ngemong” bocah tersebut…dibiarkannya bocah itu lari…dibiarkannya bola menggelinding jauh…sehingga dia bisa melakukan ‘home run’… bocah itu pun senang sekali. semua pun senang karena bisa membuat bocah itu senang, meski team B harus kehilangan kemenangan.

Pada saat acara wisuda anaknya dari SLB, ayah anak tersebut berpidato didepan peserta acara wisuda, ia menceritakan kejadian di lapangan baseball tersebut, suatu peristiwa yang menjawab pertanyaannya kepada Tuhan selama ini, mengapa anaknya dan dia serta keluarganya diberi “anugerah” “kelebihan” itu…
ternyata itu dimaksudkan agar kita/orang-orang disekitar mereka yang dikaruniai “kelebihan” itu… yang dikaruniai “kenormalan” bisa belajar bersyukur untuk anugerah kelengkapan tubuh dari ujung rambut ke ujung kaki,
bisa belajar berbesar hati, seperti para pemain baseball tersebut…
bisa belajar berempati kepada mereka yang hidupnya akan sangat bergantung pada kita yang dianugerahi kelengkapan….

saya terdiam mendengar cerita teman saya tersebut, dan saya masih “ngeyel” padanya…oke itu memang untuk maksudnya baik untuk orang-orang disekitarnya seperti yang sang ayah itu ceritakan, tapi tetap saja rasanya tidak adil bagi anak itu…

temen saya tersenyum, iya ya…tetep saja tidak adil bagi anak itu….
dan saya masih terus memikirkan tentang anak itu sampai saya pergi tidur.

Paginya saya kembali memikirkan tentang anak tersebut, dan saya sedikit mendapatkan jawaban entah benar atau tidak tapi sedikit membuat saya lega. bahwa IA masih tetap baik…IA memang menciptkan bocah itu dengan “kelebihannya” dan kita sering menganggap itu tidak adil, tapi tidak adil itu kan dari kacamata kita…kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran bocah tersebut, bisa saja Tuhan menciptakan mereka dengan “kelebihan” tersebut juga dengan kelengkapannya diantaranya suatu perasaan yang membuat dia tidak bisa merasa diperlakukan tidak adil. dia tidak dikaruniai rasa itu…karena kalau saya melihat bocah tersebut, sama sekali tidak ada perasaan tersebut tergambar dalam wajahnya…dan wajah-wajah mereka….wajah-wajah datar tanpa ekspresi…
aahh…semoga saja saya benar….
bahwa IA menciptakan segala sesuatu itu sudah sedemikian rupa dibuat untuk kebaikan ciptaanNya…setiap tubuh dengan bagaimanapun kondisinya diperlengkapi sedemikian rupa dengan hal-hal luarbiasa. Hellen Keller yang dengan “kelebihannya” diperlengkapi dengan hal lain yang tidak dipunya orang kebanyakan…dan masih banyak contoh lain….
Terpujilah DIA Sang Pencipta….




#Oktober 4

Wednesday, October 3, 2012

mengingatmu.....



Mengingatmu membuatku teringat lagi akan pertanyaan apa itu cinta....? ada dua perihal yang masih kupilih mana yang lebih tepat, sesuatu hal yang menjadi sangat sulit kujelaskan artinya sejak mengenalmu atau akhirnya aku menemukan arti yang sesungguhnya sejak mengenalmu. Ini Oktober hari ketiga, sekitar setahun sejak aku mengenalmu dan aku belum tahu perihal yang mana yang tepat. Tidak mudah memilih mana yang tepat. Ketika perih tidak membuat beranjak dan sakit tidak bisa menghapus, juga luka tidak mampu membunuh. Bahkan ketika jalan pulang berhasil ditemukan aku masih tetap diam tidak bergeming.

Mengingatmu membuatku teringat lagi akan rasamu dan rasaku. Rasamu padanya ada pada rasaku padamu, kekonyolan apa ini aku tidak tahu. Kamu dengan cintamu sama bodohnya dengan aku dengan cintaku. Atau sama agungnya? Kebodohan cinta atau keagungan cinta? Mungkin jaraknya setipis langit dan bumi bagi tuhan. Ah tuhan, serumit apa engkau sehingga ciptaanmu bernama cinta ini demikian sulit dipahami, atau apakah sebenarnya kami yang membuat cinta menjadi demikian rumit...?

Mengingatmu membuatku teringat kembali akan luka. Luka yang dibawa berlari sama perihnya dengan luka yang coba dinikmati sampai habis tetapi tidak pernah habis. Perihnya mengikuti dan menemani pagi yang berlayar mengarungi hari menjemput malam dan malam yang merayap mengantarkan pulang pagi. Rindu yang tak berdawai memainkan melodi kepedihan dan tak pernah menemukan muaranya.

Mengingatmu membuatku teringat kembali akan kenangan. Kenanganmu akan dia dan kenanganku akan engkau. Kenangan yang tak pernah berhasil dikemasi. Kenangan yang menghadirkan kehangatan yang menelusup menghadirkan semacam surga kecil didalam hati dan pikiran. Kenangan yang selalu bercerita tentang kisah berepilog aku bahagia saat bersamamu.




#Oktober tiga

Tuesday, October 2, 2012

shoulder to cry on...



Siang Nus....
Masih tangguhkah engkau menjaga lautan....?
matahari belum berhasil mengeringkan kerajaanmu kan...? sepertinya belum, karena hujan baru sekali turun disini.
Masih belum bosan mendengar ceritaku kan...?
Masih cerita tentang kenyataan hidup yang berbicara tanpa nurani, malam itu sehabis hujan yang mungkin ini kali kedua aku begitu mensyukuri turunnya hujan, sehabis kami hanging out menghabiskan sabtu malam dengan makan bersama the band of sisterhood di sebuah rumah makan yang penuh sesak dan membuat saya berpikir, ini realita hidup di suatu sudut orang-orang termasuk saya dan teman-teman makan makanan dan minuman seharga makanan dan minuman untuk 3 hari suatu keluarga kecil di sudut bumi yang lain. Ahhh....kalau sudah menyadari itu, rasanya aku merasa “kebangeten” banget Nus...terkadang tidak bisa mensyukuri hidup yang terberi ini.

Kembali ke ceritaku Nus, kali ini aku mendengar cerita kehidupan dari seorang anak manusia. Cerita kehidupan yang membuat ia terisak menceritakannya dan membuat kami semua terdiam mendengarnya karena sangat tidak menyangka sama sekali. Ketika sosok ayah yang bagi sebagian anak di muka bumi ini seharusnya adalah sosok pelindung, pengayom, teladan, benteng keluarga, tulang punggung keluarga, pahlawan bagi keluarga ternyata jauh dari image itu. Seorang ayah bukan lagi pelindung, pengayom tapi justru menjadi sosok yang dibenci, bukannya jadi teladan tapi malah memberi contoh yang tidak baik, bukannya jadi benteng atau tulang punggung keluarga tapi malah penggerogot keluarga, bukannya jadi pahlawan tetapi justru menjadi musuh dalam selimut.

Benar kata orang Nus... setiap orang memanggul beban kesedihan, kepahitan, lukanya masing-masing, semuanya memang diberi Nus...ya semua tanpa terkecuali, seorang yang selama ini kelihatan nyaman-nyaman saja, menikmati hidupnya dengan enak, ternyata menyimpan cerita kepedihan yang menyakitkan. Kata orang Jawa, hidup itu “wang sinawang” yang terlihat merah di kehidupan orang lain bisa saja kelabu dibaliknya, demikian sebaliknya. Dan pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan.., bahwa kesedihan, penderitaan, kepahitan hidup itu relatif. Kepahitan A akan berbeda dirasakan oleh Noel dan Keenan, bagi Noel bisa saja terasa berat, karena ia masih terlalu belia untuk mengalami hal itu atau karena ia belum pernah merasakan kepahitan hidup selama ini, sehingga ketika kepahitan hidup itu harus dia cecap, sangat terasa pahit baginya, tapi bagi Keenan kepahitan A adalah sesuatu yang biasa saja dan kecil untuk diatasi. Dan suatu saat ketika Noel sudah bisa melalui kepahitan A, ia pasti akan seperti Keenan ketika menghadapi kepahitan yang lain yang bagi Wawan adalah adalah sebuah kepahitan hidup yang begitu berat.

Nus... setiap orang diberi kesempatan di posisi Noel dan Keenan, dan kami yang berada di posisi Keenan malam itu, berusaha menguatkannya, mencerahkannya, karena untuk itulah kami diciptakan Nus...menjadi penolong, menjadi “shoulder to cry on”  bagi sesama. Karena ada masanya kami juga akan berada di posisi Noel. Dulu aku pernah merasa terlahir sebagai orang yang paling malang dan paling menderita se dunia, tapi seorang Keenan pernah menyadarkanku bahwa aku bukan “the only one” yang paling malang dan menderita di dunia ini, ada banyak bahkan jauh lebih malang dan menderita di dunia ini. Dan malam itu, aku dan teman-temanku diberi kesempatan menjadi Keenan, menjadi “shoulder to cry on”  bagi orang lain. Hidup memang berputar Nus... Semoga seseorang yang malam itu terisak-isak menceritakan kepahitan hidupnya itu bisa melalui semuanya itu dengan baik ya... Nus, karena itu memang cara terbaik membuat kami manusia belajar menjadi kuat... menjadi tangguh.

Nus....itu ceritaku...sampai jumpa di cerita yang lain.



Aku,

#Oktober dua 

Monday, October 1, 2012

surat untuk seorang teman...


::MSD

Dear Mbak e pengagum sebuah bintang pagi.....

saat dirimu membaca tulisan ini, pasti dirimu sudah bersama dengan orang-orang terkasih di sebuah tempat paling nyaman di dunia yang sering disebut orang sebagai rumah. Tadi jam istirahat saya pulang ke kost, mengambil batik pesenan teman yang ketinggalan tadi pagi. Entah kenapa, rasanya menaiki tangga dan memasuki ruang tengah rasanya terasa lengang sekali...sebuah lengang yang tidak biasa, lengang tidak seperti kalau kalian semua sedang pergi keluar, lengang yang aneh, sepertinya tiap sudut ruangan dan semua yang ada didalamnya sedang bersedih kehilangan penghuninya (ok ini mungkin agak lebay :p). Tapi benar-benar terasa lengang, sebuah kepergian [dirimu bersikeras ini bukan perpisahan, karena yakin pasti akan bertemu lagi, menemui bintang pagi mu :)) ...baiklah banyak amin saya naikkan untuk wishes yang satu itu :) ] memang selalu meninggalkan jejak kesedihan bagi yang ditinggalkan ya... ok saya tidak ingin berlama-lama di part tentang kepergian ini, rasanya separuh hari tadi saya sudah melow sekali, [beberapa sms dari Jogja membuat saya harus menyebut Duuhh...Gustiiii beberapa kali untuk sedikit memperingan beban ini. Sepertinya hampir pasti saya akan mengikuti jejakmu. Pulang. Segera begitu saya dapat pekerjaan disana] dan saya tidak ingin semakin melow dengan menulis tentang kepergian.

Mbak e...
saya mencoba mengenang pertama kali kita bertemu, hmmm... yang teringat cuma waktu mau pinjam sapu karena sapu ruang atas tidak ada di tempat [kalau tidak salah], dan dirimu dengan setengah jutek berkata “...kembaliin ke tempatnya lagi ya...!!!” membuat saya agak shock juga dan membatin “....ok ini Palembang...bukan Jogja...” tapi seperti yang orang bijak bilang, =jangan menilai seseorang dari pertemuan pertama=, penilaian saya berubah setelah pertemuan kedua, ketiga dan kebanyak kali...ternyata dirimu tidak se-jutek itu...tapi jutek sekali... hahaha... kidding....  waktu pun berlalu...#halaaahh.... dan banyak hal terjadi, banyak cerita terjalin, suka duka, tawa tangis, terutama mungkin stress ya dapat teman seperti saya yang....mmmm.....ya begitulah “rodo ajib” wkwkwk

Mbak e... (oh iya, saya panggil mbak e... karena saya ngajeni njenengan :p tahu nggak arti ngajeni? Kalo nggak kesini lagi saya kasih tahu artinya..wkwkwk) dari sekian banyak peritiwa yang terjadi (yang kalo saya sebutin pasti bisa bikin jari saya kriting mengetik dan mata juga kriting membaca) ada satu peritiwa yang tidak akan pernah saya lupakan adalah peristiwa ketika saya sakit, bayangan saat itu dirimu sedang puasa, tidak masuk kerja, menunggui saya di rumah sakit, ngipasin saya yang gelisah kepanasan sepanjang hari, iuuuhh....moment itu tidak akan pernah saya lupakan selama hidup, matur nuwun sanget, terimakasih tidak terhingga, thank you very much from deep inside my heart. Tuhan dan semesta pasti memperhitungkan itu.

Mbak e..... maaf ya untuk semua salah-salah kata atau tingkah laku yang tidak enak yang selama ini tidak saya sadari yang mungkin menyakiti hati, sungguh saya tidak pernah bermaksud seperti itu, tapi sangat mungkin sekali ketika mood saya sedang anjlok di titik terendah atau ketika keletihan sedang mendera apalagi galau sedang menyiksa, ada kata-kata atau tingkah laku saya yang membuat bete banget yang membuat sakit hati. Tolong lupain saja kalau memang pernah terjadi. Sungguh saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Ok..ok... :) oiya dan maaf juga tidak bisa meluluskan permintaan makan di RM Bali itu, juga melihat danau di Air Batu, kondisi sehabis hujan pertama kemarin tidak memungkinkan daripada kita menjadi offroader yang terjebak di beceknya jalan dan nggak bisa pulang, lebih baik menundanya atau mungkin memang akan ada saatnya dirimu kesana bersama ehem...entahlah apakah mr. bolang atau opik saya bundar atau dokter metroseksual itu...? hahaha.. we never know ya....

Mbak e.... bagian terakhir ini, saya ingin meng-apreciate niat luhurmu pulang untuk menunjukkan bakti pada orang tua terutama pada mama, untuk merawat dan menemani mama, salut, saya angkat opik bundar :p untuk yang satu ini. Saya juga ingin menuliskan tentang doa tulus saya sebagai teman untuk kebahagiaan dan kesuksesanmu. Semoga niat untuk sekolah lagi segera terlaksana, dapat kerjaan baru yang sesuai, dan.... ingin doa yang bagaimana nih untuk pasangan jiwa...? Mr. Bolang...? dokter metroseksual....? atau aa’ opik...hahaha...apapun itu...eh siapapun itu.... semoga menemukan yang sejati, yang bisa mengerti dan menerima apa adanya ya.... ok begitu saja teman....sukses di segala bidang pokoknya... and see yaa..



Mbak e kamar sebelah


#Oktober satu

Friday, September 28, 2012

belajar dari benang yang ruwet....


Hai Neptunus....How’s life...? Wet I guess :p
I’m “dry” here.... :( ...yaaahhh...you know what I mean....
But...life must go on.... with or without....
Heii...aku ada satu cerita baru untukmu...?
Semalam aku mendapat pelajaran dari benang yang ruwet.
Kost-kostan sepi Nus...setelah Hitam Putih semua masuk kamar. Aku pun demikian, tetapi aku tidak tidur. Aku mengerjakan pekerjaanku mengisi waktu luang, membuat gantungan kunci dari kain flanel. Aku mulai mengguntingi semua pola yang lumayan banyak. Akhirnya selesai juga proses pengguntingan pola tersebut. Dan kulanjutkan dengan menjahit. Sebenarnya saat itu kondisiku sudah sangat capek dan mengantuk,  dan mata sudah payah dan perih rasanya tetapi aku memaksakan diri untuk menyelesaikan menjahit satu pola.



Akibatnya aku tidak konsentrasi dalam menjahit dan ditengah jalan benangnya menjadi ruwet. Aaarrrghhhh.....aku jengkel sekali Nus... pelan-pelan kucoba telusur dimana simpul keruwetannya tetapi tidak ketemu, aku semakin jengkel dan aku mulai asal saja menarik-narik benang-benang itu, bukannya keruwetannya terurai karena terburu-buru ingin menyudahi pekerjaan tapi malah semakin kencang simpul yang terbentuk. Dan aku sampai pada puncak kejengkelanku, aku tarik salah satu benangnya kuat-kuat berharap simpulnya akan terurai sehingga benang ruwet itu bisa  kembali lagi seperti semula, bukannya terurai benangnya malah putus. 









Aaaarrrrgggghhhhhh.........akupun terdiam Nus, lalu menghampiri jendela melihat ke  langit gelap mencoba mengurai kekesalanku. Dan aku tersadar akan suatu hal. Apa yang baru saja kualami itu juga sering terjadi dalam hidup ini.






Kami manusia memang terkadang memaksakan melakukan suatu hal padahal situasi kondisi baik didalam dirinya sendiri maupun di lingkungan tidak memungkinkan, akibatnya terjadilah keruwetan/masalah seperti benang jahit itu. Keruwetan yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika manusia sedikit saja bersabar menunggu waktu yang tepat. Dan parahnya lagi keruwetan yang terjadi akibat kesalahan sendiri itu seringkali dicarikan kambing hitam dengan menyalahkan keadaan atau bahkan orang lain.  Dan sama dengan yang terjadi padaku semalam Nus, kami biasanya mencoba mengurai keruwetan tersebut pelan-pelan, tetapi setelah kami tidak juga bisa mengurainya kami akan menjadi jengkel dan mulai ajian asal-asalan dilancarkan, yang tentu saja semakin memperparah keruwetan/masalah, bahkan menambah masalah baru [biasanya], dan puncaknya sama dengan yang terjadi dengan benang jahitku yang putus, masalah menjadi besar dan butuh pemecahan yang tidak semudah seandainya mau bersabar untuk “cooling down” menunggu waktu yang tepat, kemudian baru mengurainya.

Dari peristiwa semalam aku belajar Nus, belajar untuk bersabar, untuk tidak memaksakan diri untuk suatu hal jika memang situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Untuk suatu hasil yang sempurna diperlukan perencanaan yang matang, kondisi yang baik, semangat saja ternyata tidak cukup Nus.
Yah...itulah kami manusia Nus, kami sering melakukan kesalahan, tetapi kami istimewa Nus, Tuhan memperlengkapi kami manusia dengan akal budi dan kemampuan untuk belajar, belajar dari kesalahan yang kami buat atau belajar dari kesalahan orang lain. Sehingga kami menjadi manusia yang lebih baik lagi. Terpujilah tuhan kami Nus...Terpujilah Dia...

Itu ceritaku Nus, sampai jumpa di cerita yang lain ya....



Aku.

Thursday, September 27, 2012

Katamu......


Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada....tapi aku menemukannya di kukuh hatimu akan cinta diatas ingkar....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada....tapi aku menemukannya di janji seorang laki-laki kepada puannya....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya pada daun yang jatuh yang tidak pernah membenci angin....

Katamu dia tidak ada....tidak pernah ada....tapi aku menemukannya di sebuah cerita tentang pilu yang menyayat....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya di gurat-gurat keletihan akan luka yang terus dibawa berlari....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya di jatuhnya seorang laki-laki, terkapar, dan dengan segala yang tersisa, berdiri dan mencoba berjalan menjemput mimpi....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya di tebalnya tekad yang membaja untuk sesuatu yang ingin dibuktikan....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya pada setiap tantangan dan kesulitan yang coba engkau hadapi disepanjang perjalananmu itu....

Katamu dia tidak ada...tidak pernah ada...tapi aku menemukannya di kuatnya keyakinanmu bahwa engkau akan menggenggam mimpi itu dan menjadikannya pelangi....

Kamu keliru. Aku menemukan tuhan di dirimu. Tuhan yang sedang menempa dan membentukmu  menjadi laki-laki hebat. Aku bahkan bisa melihatnya, diujung jalan yang kau tempuh itu. Disana nanti engkau berdiri menjadi seorang laki-laki hasil tempaan tuhan. Beri tahu aku nanti bahwa tuhan itu ada. Aku ingin mendengarnya.

Tuesday, September 25, 2012

Dear Takita....



Dear Takita...
Senang sekali membaca surat darimu, sudah lama sebenarnya ingin membalas, tetapi baru sempat sekarang. Takita, kakak juga ingin berbagi cerita dengan Takita. Cerita tentang seorang gadis cilik berambut ikal dan bermata pelangi. Usianya baru 4 tahun. Saat ini dia duduk di TK nol kecil. Ia gadis cilik yang sangat periang. Kedua tangannya sangat kecil, Takita, tapi jika memeluk sanggup memberikan kehangatan bagi siapapun yang dipeluknya, kurang lebih sama dengan kehangatan pelukan bunda kita. Kakak selalu berusaha belajar darinya bagaimana cara memberi “pelukan” sehangat pelukannya. Kenapa orang dewasa belajar dari anak kecil? Karena ada hal-hal yang hanya dimiliki oleh anak kecil dan orang dewasa sudah kehilangan hal itu yaitu kepolosan, kasih sayang yang tulus, sehingga pelukan yang diberikan tidak bisa sehangat pelukan gadis kecil itu.  Maka dari itu jika nanti kamu bertambah besar dan dewasa jangan kehilangan kasih sayang dan ketulusan itu ya.....:)

Takita...
Selain memiliki pelukan yang hangat, dia juga memliki kedua bola mata yang cantik. Dulu kakak pikir pelangi di kedua bola mata itu hanya ada di syair lagu Jamrud, tetapi ternyata itu nyata dan ada didalam kedua bola matanya. Setiap kakak memandangnya, melihat kedua matanya, ada keindahan pelangi yang merambat masuk kedalam mata kakak yang kemudian mengirimkan pesan ke otak lalu disampaikan kepada hati yang kemudian merasakan kedamaian magis yang kakak tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ahh...seandainya semua mata orang dewasa juga seperti mata anak kecil yang memancarkan warna-warni pelangi, betapa kehidupan ini akan penuh dengan kedamaian ya Takita...

Takita…..
Kakak banyak belajar dari gadis kecil itu. Diantaranya belajar bersyukur dan menjadi tangguh. Pada usia 3 bulan...iya 3 bulan, Takita....Ayahnya meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Ia telah kehilangan sosok seorang ayah  sebelum ayahnya sempat melihatnya tengkurap, duduk, tumbuh gigi, merangkak, berjalan, berbicara satu dua patah kata [bahkan papa adalah kata pertama yang bisa ia lafalkan dengan baik], bersepeda, dan sampai sekarang begitu pandai bercerita dan mulai menanyakan keberadaan sosok didalam foto yang tergantung didinding.

Sungguh kakak belajar ketegaran darinya, ketika suatu hari kakak mengikutinya berlari-lari kecil menuju rumah 2 X 1 dengan batu marmer merah  dan tulisan nama ayahnya di batu nisan di sebelah gerbang utama tempat pemakaman umum di daerah tempat tinggalnya, ia langsung ikut sibuk membersihkan rumah mungil itu, menabur bunga dan kemudian mengikuti sikap mama nya berdoa. Ah…kakak selalu tidak tahan melihat mamanya menangis dalam doanya, ditambah lagi dengan sikapnya yang terdiam disamping mamanya, membuat kakak sedih sekali. Tetapi tahukah Takita, apa yang terjadi kemudian..? sejenak kemudian dia sudah ceria lagi, tertawa kembali, berlari-larian kembali dan dengan riangnya ia berbicara pada Nisan papanya...dadah Papa.... .

Takita, kakak belajar untuk bisa seperti gadis kecil berambut ikal itu. Ada waktunya sedih, terdiam, mengenang tapi ada waktunya untuk tersenyum kembali, ceria kembali, tertawa kembali, bermain kembali. Kakak belajar tegar darinya, kadang kakak merasa rapuh dan lemah sekali ketika kehilangan sesuatu atau seseorang, tapi belajar dari gadis kecil itu, kakak jadi malu. Kalau dia yang kehilangan seorang ayah saja bisa tegar harusnya kakak sebagai orang dewasa juga bisa ya Takita :)

Takita....lebih dari semua itu, gadis kecil itu membuat kakak sadar bahwa kakak masih jauh lebih beruntung darinya, 3 bulan…ya di usia 3 bulan…harus kehilangan sosok malaikat pelindungnya, sosok yang harusnya menggendongnya, sosok yang harusnya mengajarinya naik sepeda, sosok yang harusnya melindunginya dari anak laki-laki yang mengganggunya, sosok yang membelikannya aneka mainan, sosok yang menceritakan dongeng sebelum tidur, sosok yang harusnya mengambil raport kenaikan kelasnya nanti,  Setidaknya kakak masih bisa merasakan penggalan-penggalan tahap kehidupan itu. Demikian banyak alasan untuk mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan untuk setiap berkat yang kita terima bukan Takita?. Yuk ajak teman-teman yang lain untuk belajar mengucap syukur untuk setiap berkat yang telah kita terima. Oiya Takita, nama gadis kecil berambut ikal itu Kaylla Keisha Bunga Pramara.  Ini fotonya sewaktu berumur 2 tahun.



Itu dulu ceita dari kakak Takita, lainkali kakak menulis surat lagi untuk Takita. tetap Semangat Takita.

Big Hug



Bulbul (demikian ia biasa memanggil kakak)

Friday, September 21, 2012

ombak, sponge bob dan ganbatte kudasai...



Dear Neptunus, apa kabar...di laut sana...? ah hampir setahun aku tidak melihat kerajaanmu. Kangen rasanya melihat kegigihan ombak yang entah..... rasanya tak terhitung kali... ditolak pantai tapi masih saja kembali dan kembali bahkan kadang lebih tinggi dan lebih besar, belum lagi ketangguhannya mengikis karang. Banyak orang bisa seperti itu Nus, walau kegagalan bertubi-tubi melanda hidup mereka, mereka tidak berhenti, mereka seperti ombak, terus mencoba kembali dan kembali, aku selalu kagum dengan orang-orang seperti mereka Nus...karena aku tidak bisa seperti mereka, bahkan aku phobia langka pertama pada banyak hal dalam hidup, belum sampai gagal Nus....bayangkan.... rasanya lebih terhormat telah mencoba kemudian gagal ya... daripada selalu takut melangkah tanpa pernah mencoba. Itulah aku Nus....:(

Hampir bisa dihitung dengan jari keberanianku melangkahkan kaki untuk sesuatu hal yang penting dalam hidup. pertama.. dua.. empat kali Nus...ya hanya empat kali dalam hidup aku berani melangkah, yang tiga pertama aku berhasil, yang terakhir aku tidak berhasil. Pertama kali dalam hidup aku melakukannya, pertama kali dalam hidup aku mengingkari “prinsip”ku, pertama kali dalam hidup aku sedemikian fight meski tembok tebal dan kokoh yang berusaha kutembus, pertama kali dalam hidup aku sedemikian ngeyel pada Tuhan, pertama kali dalam hidup aku tidak mengenal putus asa dalam menginginkan sesuatu meski airmata, rasa letih, luka mendera, tapi aku tidak berhasil Nus :(  pahit sekali rasanya, sakit, luka menganga, tapi aku juga mendapat pelajaran dari sakit itu, bahwa setidaknya aku telah mencoba dan itu membuatku lega, meski hasilnya tidak sesuai harapan. Aku belajar menjadi kuat, aku belajar seperti sponge bob yang selalu ditolak squidward tapi tetap bisa tertawa [tawa yang aneh tapi terdengar tulus :)) ] aku belajar menerima kenyataan, meski harus kubayar dengan harga yang mahal, tapi pelajaran yang kudapat juga tidak ternilai.

Empat kali mencoba, sekali gagal, harusnya tidak boleh membuatku phobia langkah pertama bukan...Nus? ya seharusnya aku tidak phobia, tapi entah, aku masih saja takut, padahal banyak rencana ke depan di kepala ini yang tercatat, tapi aku masih saja diam tidak bergerak. Itulah kenapa Nus, aku selalu senang dan mendukung keluarga maupun teman-temanku yang berani melangkah untuk maju, untuk sesuatu yang lebih baik. Aku senang membantu tanpa pamrih apapun, ahh sebenarnya ada pamrih sih, pamrih... jika mereka berhasil, itu akan menambahkan banyak cerita sukses untuk  menguatkan aku, menginspirasi aku untuk membuatku menjadi pemberani seperti mereka, jika mereka bisa aku harusnya juga bisa bukan..?

Nus, sampaikan salamku pada ombak ya, aku kangen sekali deburnya, aku kangen sekali cara dia menyentuh kakiku, aku kangen sekali cara dia membuatku seolah aku meluncur dipantai tanpa menggerakkan kaki padahal ia yang bergerak kembali ke laut, aku kangen mereka yang berlomba-lomba menuju pantai, aku kangen putihnya yang bergulung-gulung...ahh sampai jumpa saja...aku pasti datang menemuinya.



aku.


:: untuk seorang teman yang akan memulai langkah pertama... go on man...dirimu pasti bisa... doa tulus selalu teruntai untuk kesuksesan langkahmu...aku ingin jadi saksi keberhasilanmu hingga aku juga bisa sepertimu... keep on spirit.. Ganbatte kudasai...!



Thursday, September 13, 2012

dear tuhan [ku].....


Setiap surat pasti selalu dibuka dengan menanyakan kabar, tapi aku tidak akan menanyakan kabarmu tuhan...eh..tidak apa-apa kan menuliskanmu dengan huruf kecil? Bukan bermaksud gimana, hanya masalah efisiensi waktu dalam mengetik saja tuhan...agak sedikit merepotkan untuk selalu menekan tombol shift, lagipula aku yakin engkau tidak gila hormat seperti kami manusia, engkau tidak akan peduli dengan aturan EYD bagaimana penulisan kata tuhan, engkau pasti tahu kriteria hormat bagimu bukan pada penulisan huruf besar atau kecil tapi pada attitude manusia..begitu kan...tuhan...? [sepertinya aku sok mengenalmu ya...:) ]

Tuhan... [ini otomatis membesar sendiri hurufnya tuhan..:)) bukan berarti komputer diajari manusia menghormatimu, tapi kurasa karena kata pertama dari sebuah kalimat...:) ]...beberapa malam yang lalu, aku terlibat perbincangan yang tidak selesai dengan seorang teman baik...ahh engkau pasti sudah tahu kan...? engkau pasti tersenyum-senyum mendengarnya...:) sebuah perbincangan yang mungkin bagi sebagian orang tidak menarik dan dihindari karena biasanya akan berujung ke debat kusir atau bahkan saling menjelek-jelekkan, menyudutkan satu sama lain, seperti yang dulu pernah kubaca dari sebuah group di social media milik kelompok orang yang tidak percaya kepadamu, disitu keliatan sekali yang mengaku percaya tuhan bahkan percaya garis keras ternyata attitude nya sama sekali tidak mencerminkan seorang yang percaya padamu, apalagi mereka yang tidak percaya padamu , rasanya sudah tidak layak baca lagi komentar-komentarnya. Aku jadi capek sendiri mengikuti perbincangan mereka akhirnya keluar dari group. Tidak ada sesuatu yang kudapat selain mereka yang saling mencela yang membuat aku berpikir mereka itu seperti bukan manusia saja.

Tuhan temanku ini adalah seorang teman yang sedang dalam perjalanan mencari jawaban akan engkau, dan sepertinya dia sedang berada di satu titik dimana dia tidak percaya [lagi] padamu, beberapa kenyataan-kenyataan dalam kehidupan kami umat manusia sepertinya menjadi pertanyaan dalam pikirannya kalau engkau ada mengapa ini semua terjadi...? dan argumen-argumen yang diungkapkannya memang make a sense, logic, karena referensinya memang dari mereka scientist-scientist yang tidak percaya padamu. Namanya scientist apa yang mereka ungkapkan berdasarkan penelitian ilmiah dari apa yang kami sebut ilmu pengetahuan dan teknologi yang salah satu cirinya adalah berkembang, tidak pernah berhenti dan selalu berinovasi. Sebuah fakta diuji kemudian dibuktikan lalu menjadi fakta baru, demikian terus  tidak pernah berhenti. Sebuah kebenaran sekarang bisa jadi salah dimasa yang akan datang, segala sesuatu tidak ada yang absolut di mata ilmuwan. Ini mungkin yang tidak disadari oleh teman saya tersebut. Selama 2000 tahun peradaban yang kami ketahui, belum ada satupun penelitian yang bisa membuktikan keberadaanmu, mereka hanya bisa membuktikan ketidakberadaanmu, berarti hanya ada dua kemungkinan,engkau memang tidak ada atau engkau memang sang maha tidak terbatas dalam pikiran kami yang terbatas, yang tidak akan bisa kami ungkap sampai kesudahan waktu.

Perbincangan kami tidak selesai tuhan.....karena waktu, [terkadang aku tidak suka dengan waktu, tuhan... rasanya ia tidak pernah sama berputar, terkadang 1 jam terasa hanya 30 menit terkadang terasa 90 menit dan kalau sudah in conversation with him in any media rasanya kok 1 jam hanya 30 menit :p] dan aku meneruskan perbincangan itu dalam pikiranku sendiri, karena aku merasa semua yang diungkapkannya memang logis dalam pikiranku, ketika perbuatan baik yang adalah perintahmu bagi kami yang percaya padamu di katakannya sebagai moralitas atas nama kemusiaan yang juga dilakukan oleh mereka yang tidak percaya engkau atau bahkan sama sekali tidak mengenal engkau [aku sedang membayangkan suku-suku di pedalaman yang belum mengenal engkau]. Aku kemudian bertanya dalam pikiranku, seandainya memang surga itu ada, apakah mereka yang tidak percaya padamu atau bahkan tidak mengenalmu tapi melakukan perbuatan baik seperti yang kami yakini engkau perintahkan kepada kami bukan calon penghuni surga, dan pikiranku menjawabnya rasanya engkau tidak sejahat dan sesempit itu. 

Jadi tuhan...., akhirnya aku kembali ke pemikiran akan sesuatu yang personal, azazi, bahwa ini tentang kepercayaan...keyakinan yang tidak bisa dipaksakan, dan bukan juga bicara tentang baik dan buruk, karena mereka yang percaya engkau belum tentu selalu baik dalam bertingkah laku dan sebaliknya mereka yang tidak percaya engkau belum tentu jahat, temanku salah satu contohnya, ia baik hati, meski segala tindakannya karena alasan moralitas atas nama kemanusiaan bukan karena menjalankan perintahmu.

Dan tuhan...bagiku, engkau lebih dari sekedar tuhan yang memerintahkan ini itu, memberi berkat ini itu, tempat memohon ini itu, tapi engkau bagiku seorang sahabat yang baik, engkau adalah sosok yang menempati tempat di hati dan pikiranku yang tidak bisa kudefinisikan dalam kata atau kalimat. Tempat yang tidak bisa diisi dengan manusia atau apapun. Suatu tempat dimana aku bisa menemukan sosok dimana padamu aku demikian bersyukur ketika aku melihat senja, ketika aku melihat pelangi, ketika aku mendengar burung berkicau di pagi hari, ketika aku mengagumi kelopak bunga dengan gurat warnanya yang bahkan kami manusia menirukan gambarnya saja tidak mampu, ketika...ahhh terlalu banyak untuk disebutkan. Suatu tempat dimana aku menemukan sosok dimana aku bisa bercerita, menangis, memohon dan sesudahnya aku mendapatkan kelegaan luar biasa. Suatu perasaan dimana aku tidak bisa menemukannya pada sosok atau bentuk apapun yang ada di bumi ini.  Sekali lagi benar kan ini sangat personal...? masing-masing orang pasti berbeda pengalaman. 

Dear tuhan.....
Itu saja dulu, lain kali aku akan menulis surat kembali untukmu, mungkin dengan cerita yang lain, mungkin juga kelanjutan cerita ini, siapa tahu akhirnya perjalanan temanku ini berakhir di titik dimana akhirnya ia menyadari engkau ada :) who knows...only you i guess....:)
Ya sudah tuhan....bye for now...love you more.....



Yours.

Tuesday, September 11, 2012

aku adalah doa....


Ini hari ke-30 saya menulis di blog, akhirnya saya khatam menulis 30 hari tanpa jeda. 30 hari pada awalnya lancar-lancar saja, tapi ditengah jalan saya sempat kehabisan bensin, ide untuk menulis macet, tidak ada satu pun yang terbersit, saya hanya terdiam di depan layar monitor, beberap saat kemudian mengetik...kemudian delete... type... delete.. begitu terus, apalagi.... pada masa-masa itu saya menghilangkan inspirasi terbesar saya untuk menulis dari daftar inspirasi untuk menghindari suatu istilah yang muncul yang sungguh saya tidak suka, saya benar-benar harus mengais-ngais ide. Akhirnya dengan menggunakan ajian pamungkas “pengawuran” dan “waton” menulis saya berhasil menamatkan obsesi saya ini. Pada pukul 14.00 adalah puncak dari kemacetan tersebut, tulisan paling ngasal dan waton.  

Dan saya ingin menutup 30 hari menulis di blog dengan satu tulisan tentang sebuah doa.

Aku adalah doa. Sendiri. Tidak ada doa lain yang menjagaku seperti dulu. Mungkin masih ada, sepertinya, tapi dari jarak yang tak terukur dan tak tertempuh bahkan oleh ruang dan waktu dan itu bukan lagi luka buatku. Waktu dan ruang serta ketiadaan telah membebatnya, menyembuhkannya, bekasnya pun dihapus oleh ikhlas. Perjumpaan terakhir dalam senyum dan jabat erat kubingkai dalam keabadian kenangan berjudul sudah selesai menjadi bukti luka itu sudah memuai. Terimakasihku padamu telah membuatnya mudah pada akhirnya.

Lapang langit adalah tempat ku bercerita, luasnya mampu menampung apa saja yang aku ceritakan, termasuk doa ahh...dulu namanya doa juga, entah sekarang, aku tidak tahu menyebutnya apa, apapun itu bagiku ia adalah cerita yang tak habis untuk ditulis dan dibaca, ia selalu ada dalam setiap cerita yang kusampaikan pada langit meski tidak pernah ada aku dalam ceritanya. luka memang menjadi kawan yang sering datang dan pergi, hanya kali ini aku tidak tahu kenapa aku hanya bisa diam dan luka tidak juga membuatku beranjak. Cerita pada langit tidak pernah berhenti bahkan oleh perihnya luka.

Aku adalah doa. Sendiri. Aku masih juga disini untuk sebuah doa yang sudah tidak lagi bercerita, aku masih disini meski kadang dalam diam. Meski sungguh tidak mudah, tapi aku juga tidak bisa beranjak entah mengapa. Aku masih disini meski tanpa asa dan kembali aku tidak tahu mengapa. Aku masih disini meski kata mungkin saja... bahkan terasa jauh, dan lagi-lagi aku tidak tahu mengapa. Aku hanya ingin disini, aku tidak ingin beranjak. Aku hanya ingin disini bercerita dan memohon pada langit untuk jingga pada sebuah doa yang sudah tidak lagi bercerita, entah sampai kapan. 

Monday, September 10, 2012

Tuhan....saya takut...................



Tuhan...
Saya takut hantu, meski bayangan tentangnya mungkin lebih menakutkan dari sosok sebenarnya...

Tuhan....
Saya takut orang jahat semacam mereka yang hati dan otaknya ditukar dengan lutut dan tumit kemudian merendahkan perempuan di dalam angkot bergiliran....

Tuhan.....
Saya takut tenggelam, karena saya tidak pernah bisa bersahabat dengan air yang katanya tenang menghanyutkan itu

Tuhan.....
Saya takut lingkungan baru,  terkadang mereka terlihat seperti sekumpulan singa yang kelaparan

Tuhan.....
Saya takut sakit, tapi saya selalu berani mengabaikan untuk menjaga kesehatan

Tuhan.....
Saya takut hewan buas yang tidak berperi kemanusiaan, seperti juga saya takut manusia buas yang tidak berperi keduanya

Tuhan.....
Saya takut menyeberang jalan di jalan raya, cara mereka mengendarai kendaraannya seolah-olah mereka itu RI 1

Tuhan.....
Ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saya sangat takut kehilangan, meski saya tahu tidak ada yang abadi  

Sunday, September 9, 2012

Namaku Raya...


Namaku Raya, aku seekor rajawali kecil, aku tinggal di tebing Arca Pada puncak Mahameru, Ayahku seekor Rajawali yang perkasa, ia mempunyai mata yang tajam, sayap-sayap yang kokoh dengan bulu-bulu yang tebal, paruhnya tajam, kaki-kaki nya kuat dan terlatih. Ayah membuatkan kami sarang di ketinggian tebing. Bangsa kami memang penghuni  tebing-tebing tinggi, ketinggian yang menunjukkan identitas kami sebagai klan burung yang perkasa. Setiap pagi ayah pergi meninggalkan sarang dan seperti merpati ia selalu menepati janjinya untuk pulang dan membawakan kami sesuatu untuk disantap, ia tidak pernah ingkar janji. Ayah mengajarkan aku hakikat tanggung jawab dari apa yang diperbuatnya tanpa mendefinisikannya dalam bahasa yang muluk-muluk.

Aku ingin jadi rajawali yang tangguh sepertinya,  terbang bebas dipelataran langit biru diantara awan putih,kadang menantang badai… tiap pagi aku melihatnya mengembangkan sayap-sayap kokohnya kemudian terbang meliuk-liuk diantara tebing-tebing ….merasakan kebebasan yang sejati. “akan tiba saatnya engkau akan seperti ayah…. Raya…” demikian ayah berkata. Aku teringat ketika pertama kali ayah mengajariku terbang, aku takut sekali, aku takut jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam, sangat dalam….karena aku tidak pernah mendengar suara benda yang aku jatuhkan menyentuh suatu dasar. Ayah terus meyakinkan aku bahwa ia tidak akan pernah membiarkan aku terjatuh, katanya : “…seperti ayah yang selalu berjanji untuk pulang membawakanmu makanan Raya…demikian juga ayah berjanji tidak akan membiarkan engkau terluka sedikitpun.” Dan ayah menepati janjinya, selalu begitu. Meski pada awalnya aku menilainya kejam karena memaksaku untuk belajar terbang dengan menjatuhkan aku dari sarang ketika aku bersikeras tidak mau belajar terbang karena takut jatuh. Tapi kemudian aku tahu,
ia sangat sayang padaku, ia mau aku bisa terbang, ia mau aku tangguh sepertinya, dan ia benar-benar menepati janjinya, ketika pada awalnya aku tidak bisa mengepakkan sayapku dan tubuhku hampir menyentuh tebing, ia datang menyelamatkanku. Ia tidak membiarkan aku terjatuh.

Ayahku juga ayah yang pemaaf, ia sering menasihatiku untuk jangan terbang jauh-jauh jika tidak bersamanya, tapi suatu kali aku tidak mendengarkan kata-katanya. Aku terbang jauh, aku ingin sekali melihat dunia dibalik gunung yang tidak pernah aku tahu, aku tersesat jauh, aku tidak menemukan dunia yang aku ingin tahu bahkan aku tidak menemukan jalan kembali. Berhari-hari aku tersesat, sampai akhirnya ayah menemukanku disebuah tebing dan membawaku pulang, ia tidak hanya memaafkanku tapi juga mencariku dan menerimaku kembali di rumah kami. Demikian juga ketika kakak dan adikku hilang, ayah selalu berhasil menemukannya kembali dengan berbagai cara. Yaa…dengan berbagai cara ia mencari kami dan menerimanya kembali dengan penuh kehangatan. Itulah ayahku...tangannya selalu terbuka untuk kami anak-anaknya bagaimanapun dan apapun yang telah kami perbuat. 

Dan aku ingin menjadi seperti ayah, ayah yang kuat, ayah yang tangguh, ayah yang pemaaf, ayah yang selalu ada ketika anak-anaknya membutuhkannya, meski ia tidak selalu bersama-sama kami anak-anaknya. Aku…Raya…akan jadi rajawali yang bisa di banggakan, karena aku dilahirkan untuk menjadi seperti itu, aku diperlengkapi untuk menjadi seperti itu, seperti yang ayah selalu bilang,”…Raya…kamu pasti akan jadi Rajawali kebanggaan ayah, rajawali tangguh yang akan terbang melintasi langit biru,  menaklukan badai sehebat apapun.” Dan aku selalu percaya kata-kata ayah.